![]() |
| Sumber: Sky News, 2017 |
Monarki Absolut Saudi Arabia
Berbentuk kerajaan atau monarki absolut, membuat Saudi Arabia tidak dapat dikritik sesukanya oleh warganya. Sudah banyak kasus di Saudi Arabia, bagi yang mengkritik kerajaan, akan menerima hukuman. Baik itu hukuman penjara maupun hukuman mati. Seperti pada tahun 2016, tokoh Syiah di Saudi Arabia, Nimr al-Nimr mendapatkan hukuman mati karena mengkritik kerajaan untuk pemilu yang terbuka. Ia termasuk dari 47 orang yang mendapatkan hukuman ini dengan dalih terduga terorisme. Selain itu, pada Mei tahun 2018, Kerajaan Saudi juga menangkap Muhammad al- Bajadi, seorang aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) di negara tersebut.
Tidak hanya warganya sendiri yang menjadi korban keotoriteran dari kerajaan Saudi Arabia, Indonesia yang menjadi salah satu penyumbang tenaga kerja di negara ini, juga menjadi korban hukuman mati. Salah satu korbannya yakni Tuti Tursilawati yang mendapatkan hukuman mati pada Oktober 2018 karena dituduh membunuh majikannya. Ironisnya eksekusi mati ini tanpa notifikasi terhadap pemerintah Indonesia. Padahal Tuti sendiri membunuh majikannya karena ingin melindungi diri dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh majikannya.
Tuti merupakan satu dari sejumlah Tenaga Kerja Indonesia yang terancam hukuman mati di Saudi Arabia. Pemerintah Indonesia sudah memperhatikan hal ini dengan serius dengan memberikan pendampingan hukum. Namun sayang, untuk Tuti, nyawanya tidak terselematkan. Sehingga pengadilan di Saudi Arabia memutuskan untuk mengeksekusi mati dirinya tanpa memberitahu pemerintah Indonesia. Begitulah contoh sikap negara yang sangat otoriter.
Mesranya Hubungan Saudi Arabia dengan Amerika Serikat
Sejak Saudi Arabia menyatakan kemerdakannya pada tahun 1932, pada awalnya Amerika Serikat tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Saudi Arabia. Namun karena ditemukannya minyak di Saudi Arabia, maka Amerika Serikat merangkul Saudi Arabia. Dimulai dari kerjasama minyak ini, AS melakukan kerjasama lainnya dengan Saudi Arabia, seperti penaruhan pangkalan militer AS di Saudi Arabia yang dimulai pada tahun 1941 hingga dilakukan perpanjangan terus menerus, AS memberikan bantuan keuangan untuk modernisasi Saudi Arabia, kemudian Saudi Arabia juga melakukan investasi secara besar-besaran di AS.
Hubungan militer AS dan Saudi Arabia adalah bukti hubungan yang mesra bagi kedua negara ini. Salah satu contohnya adalah saat AS melindungi Saudi Arabia dari ancaman serangan Irak saat Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1991. Di mana AS menaruh pangkalan militernya di Saudi Arabia. Contoh lain yang terbaru yakni pada Maret 2018, saat kunjungan Mohammad bin Salman (MBS) ke AS untuk bertemu Presiden Trump, MBS berjanji bahwa Saudi Arabia akan belanja militer ke AS lebih besar daripada tahun sebelumnya, yakni yang semula 200 milyar dolar AS menjadi 400 milyar dolar AS.
Dapat diketahui bahwa AS dan Saudi Arabia memilki kepentingan simbiosis mutualisme. Sebab bagi AS, Saudi Arabia sangat penting menjadi sekutu yang paling terdekat dan terpecaya di Timur Tengah untuk mengamankan kepentingannya, seperti untuk memperoleh minyak, melawan Iran dan Suriah, serta untuk melindungi Israel. Sedangkan bagi Saudi Arabia, AS sangat penting untuk menjaga keamanannya baik dari dalam negeri maupun eksternal yaitu seperti ancaman Iran. Maka sudah sangat wajar keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat dan mesra.
Kasus Jamal Kashoggi
Pada penghujung akhir tahun 2018, Saudi Arabia menjadi sorotan dunia karena kematian Jamal Kashoggi. Kematian ini disebarkan ke dunia internasional oleh Pemerintah Turki. Turki mendapatkan informasi kematian Kashoggi dari tunangan Kashoggi yang melaporkannya ke aparat Turki. Turki menyatakan bahwa Kashoggi tewas dimutilasi saat Kashoggi mengurus berkas pernikahan dengan tunangannya di Konsulat Saudi Arabia di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Kepastian tewasnya Kashoggi ini diperoleh dari apple watch yang digunakan Kashoggi yang terkoneksi dengan apple phone yang digunakan tunangannya di luar Konsulat Saudi.
Untuk diketahui, Jamal Kashoggi adalah pria kelahiran Saudi Arabia yang lulus dari salah satu kampus di Amerika Serikat. Ia adalah wartawan senior Saudi Arabia yang pernah dekat dengan Osama bin Laden dan termasuk kolega terdekat dalam lingkaran kerajaan Saudi Arabia. Sejak MBS menjadi putra mahkota, Kashoggi sering mengkritik MBS, antara lain masalah pemenjaraan kawannya sesama jurnalis dan kritik perang di Yaman.
Karena dirinya sudah tidak aman lagi berada di negaranya dalam melancarkan kritiknya ke Saudi Arabia, terutama terhadap MBS. Maka pada tahun 2017 Kashoggi pergi ke AS dengan menggunakan O-Visa, sebuah visa yang didapatkan karena prestasi dan merupakan salah satu visa kerja di AS. Di negeri Paman Sam ini, Kashoggi bekerja sebagai kolumnis di Washington Post. Diduga kuat sebelum Kashoggi tewas, Kashoggi sedang mengurus perubahan kewarganegarannya dari semulai warga negera Saudi Arabia menjadi warga negara AS. Sehingga saat kematian Kashoggi, Kashoggi masih menjadi warga negara Saudi Arabia.
Atas kematian Kashoggi pada 2 Oktober 2018 tersebut, serangkaian fakta kembali ditemukan oleh Turki. Turki menemukan bahwa jenazah Kashoggi tidak hanya dimutilasi tetapi juga digunakan cairan zat asam agar jenazahnya hancur. Bahkan Erdogan menyatakan bahwa kematiannya atas prakarsa dari pimpinan tertinggi Saudi Arabia, tetapi bukan Raja Salman. Bahkan Turki sudah mendapatkan rekaman pembunuhan Kashoggi dan menyerahkannya ke AS dalam pertemuan di Paris pada 10 November 2018.
Pada mulanya, Saudi Arabia menolak kematian Kashoggi, namun dua minggu kemudian, kerajaan Saudi membenarkan kematian Kashoggi akibat perkelahian di Konsulat Saudi di Instanbul. Saudi mengklaim telah menangkap sejumlah pelaku pembunuhan terhadap Kashoggi dan akan diadili. Atas tuduhan Erdorgan bahwa terdapat pimpinan tinggi Saudi yang terlibat atas pembunuhan ini, Saudi menolaknya, bahwa tidak ada pimpinan di lingkaran kerajaan Saudi yang terlibat dalam pemubunuhan ini. Informasi kematian Kashoggi tersebut mendapatkan perhatian dunia. Antara lain Jerman dan beberapa negara anggota Uni Eropa yang merespons akan mengurangi bantuan militer ke Saudi Arabia. Sedangkan AS pada permulaan kematian Kashoggi memberikan pernyataan resmi pada 18 Oktober 2018, bahwa AS membenarkan kematian Kashoggi dan AS akan memantau investigasi ini secara ketat. Namun pada 19 Oktober 2018, Trump menyatakan enggan membatalkan kerjasama jual beli senjata dengan Saudi Arabia.
Perkembangan terbaru terjadi pada 17 November 2018, Badan Intelejen Amerika Serikat atau CIA, melalui tulisan di Washingtan Post, menyatakan bahwa MBS terlibat dalam pembunuhan Kashoggi. Menurut CIA, bahwa MBS meminta Khalid bin Salman, kakak MBS yang menjabat sebagai Duta Besar AS untuk Saudi Arabia, untuk menyuruh Kashoggi ke Konsulat Saudi di Istanbul. Dari temuan CIA, setelah komunikasi tersebut, ditemukan bahwa Khalid menelepon Kashoggi untuk datang ke Konsulat tersebut dengan jaminan keamanan. Atas temuan CIA ini, Khalid bin Salman menolaknya melalui pernyataan resmi di twitternya.
Temuan CIA tersebut juga direspons oleh pemerintah AS. Pada 18 November 2018, Kemenlu AS menyatakan bahwa tidak akurat. Sehingga AS belum mencapai ketentuan final terkait kematian Kashoggi dan bagi AS masih banyak pertanyaan belum terjawab, serta AS masih terus mencari fakta relevan terkait kematian Kashoggi. Meskipun demikian, dalam sebuah pernyataan, Trump meyebut Saudi sebagai “sekutu yang penting” dan AS harus “mempertimbangkan banyak hal”.

No comments:
Post a Comment